Profile

Categories






Awal Desember 2001, dan sebentar lagi Natal tiba. Seperti biasa Ibu Kosku, Bu Helmi, akan menghiasi rumahnya dengan pernak – pernik Natal. Aku yang muslim harus ikut membantu. Selain karena beliau adalah induk semang, aku juga diperlakuan beliau dengan baek dan nggak membeda – bedakan.

 

Dan ini tahun kedua aku di Rumah tersebut. Tahun lalu sempat ikut Bantu menghias pohon Natal dan Bantu Bu Helmi masak makanan karena kebetulan aku nggak pulang kampung. Bu Helmi baik padaku, juga pada anak – anak kos lainnya yang Nasrani. Atas dasar toleransi pula waktu itu aku nggak segan – segan membantu Bu Helmi menyiapkan segala sesuatu guna mempersiapkan hari rayanya itu.

 

“Danie, ada beberapa hiasan yang rusak tahun lalu. Tolong belikan di supermarket ya,” pinta Bu Helmi padaku.

 

Ya. Aku melihat setumpuk daun ivy imitasi yang hampir rusak saat membuka kardus – kardus hiasan natal yang dikeluarkan Bu Helmi dari kamarnya.

 

Kemudian aku melihat beberapa gantungan berbentuk “malaikat”  yang salah satu dari mereka tangannya patah.

 

“Bu, Ibu lihat dulu deh mana yang akan Danie beli. Danie nggak begitu hapal,” kataku.

 

Bu Helmi mencatat semua pernik Natal yang harus kubeli. Selain Daun Ivy, ada Daun HolyMistletoe imitasi, Lampu Hias, dan Tinsel. Sedangkan yang lainnya termauk pohon cemara berukuran 1 meter itu masih bagus menurutnya.

 

Aku berangkat ke Supermarket yang terletak di pusat kota Pangkalpinang dengan Supra punya Bu Helmi. Di dalam perjalanan aku teringat masa SMP ku yang juga diliputi masa – masa yang “penuh toleransi.”

 

Kendati terlahir di keluarga Muslim, bakat seni mengalir di tubuhku. Aku tak tahu siapa yang membawa. Mungkin Ayah dan Ibu, walaupun aku tahu mereka berdua Qori’ dan Qori’ah serta tak ada hubungannya dengan kemampuanku memainkan berbagai alat musik seperti Keyboard, Gitar, dan Drum. Suaraku juga lumayan bagus. Terbukti dengan terpilihnya aku bergabung di Klub Vocal Group di sekolahku. Kata pelatihku, Ibu Yekti , aku punya insting musik yang cukup baik.

 

Bu Yekti juga Nasrani. Aku sering main ke rumahnya. Sekedar untuk ngobrol ataupun latihan memainkan alat musik karena orang tuaku tak pernah membelikan alat musik. Hal yang mubazir, kata mereka waktu itu. Satu – satunya alat musik yang dibeli dengan uang yang kudapat dari mereka adalah sebatang Recorder. Itupun dibeli karena memang ada pelajaran seni musik di sekolah yang mengharuskan setiap anak memilikiRecorder.

 

Kemampuanku memainkan Keyboard mengantarkan aku ke Gereja. Entah apa yang kupikirkan saat SMP dulu. Toleransi mungkin. Karena teman – temanku yang Nasrani  selalu datang saat aku berlebaran, aku pun ikut berkunjung ke rumah mereka saat Natal dan Tahun Baru.

 

Aku diminta mengiringi perayaan  natal untuk anak – anak sekolah minggu. Tak hanya itu, Remaja Panteskota pun mengajakku mengiringi paduan suara mereka di sore Natal.

 

Ayah ataupun Ibuku tak ada yang tahu akan hal ini. Aku pun cuek, selama aku tetap menjalankan kewajibanku sebagai seorang muslim, sholat lima waktu dan puasa.

 

Tak ayal karena sering mengiring lagu – lagu pujian aku ikut hafal dan mampu menyanyikannya.

 

Namun ketika kami aku harus pindah sekolah, aku meninggalkan semuanya. Bayang – bayang toleransi kembali bersamaku saat harus kos di rumah yang notabene pemiliknya Nasrani.

 

Sering mendengar Bu Helmy menyanyikan lagu – lagu rohani mereka membuat lidahku karena instinc musik itu ikut bergerak.

 

Astaghfirullah!

Padahal aku mulai sadar bahwa ada batasan toleransi dalam agamaku, Islam. Dan dengan aku ikut dalah hal seperti itu membawaku ke jurang kafir.

 

Sekali lagi, Astagfirullah! Ampuni aku ya Allah.

 

Terkadang aku tak bisa menolak setiap permintaan Bu Helmi seperti mengantarnya ke Gereja Bethel yang memang lumayan jauh dari rumahnya. Pernah aku mendengar Bu Helmi ditanyakan seorang pendeta kenapa anaknya (yang dia maksud aku) tidak ikut masuk mengikuti kebaktian.

 

Kulihat Bu Helmi hanya tersenyum. Janda yang ditinggal suaminya yang pergi entah kemana memang butuh seseoarang yang lebih memperhatikannya juag yang ia perhatikan layaknya anak. Dan aku merasa terpilih. Entah atas dasar apa.

 

Instinct  musik yang baguz ini sebenarnya sempat aku sesali. Kenapa aku dikaruniai hal seperti ini.

 

Ramadhan tahun 2002 aku baru tahu alasannya. Kenapa Allah memberiku kemampuan bermusik. Memberiku anugerah yang aku tahu sangat besar nilainya. Lewat teman – teman di Rohis aku mengenal indahnya seni islam. Ada nasyid disana. Aku bisa menyalurkan naluri bermain musik lewat bidang seni di Rohis SMA ku.

 

Alhamdulillah, aku pun bisa sedikit demi sedikit menjauh dari hal – hal yang bisa merusak akidahku tanpa mengurangi rasa terima kasihku pada Bu Helmi. Aku masih mengantarkan beliau ke Gereja setiap Kamis malam. Tapi tak pernah lagi menunggu di halaman gereja atau di rumah pendeta. Aku kembali ke depan gereja untuk menjemputnya 2 hingga 2,5 jam selanjutnya karena Kamis malam aku juga harus ikut kajian di musholla sekolah.

 

Lewat bang Hendy, Allah menarik lagi aku ke dalam pelukanNya. Aku jadi mengenal lebih dalam Islamku. Hingga ku sadar lebih jauh, karunia ini (Baca:kemampuan bermusik) adalah anugerah terindah dan menjadi jalan dakwah baru untukku.

 

“Tak harus jadi Penceramah untuk menebarkan kebaikan dan indahnya Islam,” kata Bang Hendy saat kami Mabit di masjid Al-Furqan, di komplek Rumahnya di Bukit Baru Pangkalpinang.

 

Alhamdulillah di kos pun aku bisa mempraktekkan ajaran agamaku dengan penuh keyakinan tanpa harus terganggu dan mengikuti pujian yang sering disenandungkan Bu Helmy. Malah kulihat, dengan rajinnya ibadahku, tilawahku , Bu Helmi semakin sayang padaku. Setiap ba’da magrib aku selalu menyempatkan tilawah 2 atau 3 halaman serta mentadabburi ayat – ayatNya.

 

Bu Helmi pun yang semula rajin menyanyikan “Kidung Agung” setiap maghrib menunjukkan rasa tolerannya dengan tak melakukan hal itu hingga aku benar – benar selesai tilawah dan membaca Qur’an. Pernah bahkan kupergoki dia sedang mengintip ke kamarku saat aku memperdengarkan ayat – ayat Allah dengan suara lantang. Dia hanya tersenyum kala itu.

 

* * *

 

Lulus SMA aku melanjutkan kuliah di Ibu Kota. Orang tua dan keluarga yang semula mengkhawatirkan perubahanku nanti akibat gaya hidup ibu kota sekarang malah makin sayang denganku. Aku bisa menunjukkan kalau aku bisa berusaha menjadi muslim yang kaffah ditengah – tengah “kekufuran” yang ada. Karena aku menemukan orang – orang yang kuanggap keluarga yang mampu membimbingku lebih jauh mendekatkan diri padaNya.

 

Di Kota Jakarta aku bergabung dengan sebuah tim nasyid, memperjuangkan dakwah lewat indahnya nada. Jalan itu masih panjang. Ternyata keharmonisan tuts – tuts Keyboard yang kumainkan di depan jemaat gereja saat “jahiliyah” dulu berbalik mengantarkanku kepada indahnya Islam.

 

Kuingat...Allah Swt tak akan menyiakan makhlukNya. Ketika masa futur itu datang, bukan Allah tak ada, tapi maukah kita menyapaNya..?

 

Menjelang Natal tahun ini yang berdekatan dengan Idul Adha aku tahu Bu Helmi juga pasti akan sibuk. Tapi kesibukannya kali berbeda. Kalau dulu dia dan juga aku disibukkan dengan menghias pohon natal dan menata ruangan, sekarang yang kutahu Bu Helmi pasti sedang sibuk memilih kambing dan domba yang akan ia Qurbankan.

 

Dari temanku di Pangkalpinang kutahu kalau Bu Helmi telah hijrah dan menjadi muslimah awal tahun ini.

 

Alhamdulillah. Segala puji hanya bagiMu ya Allah. Terima kasih atas setiap hidayah yang diberikan untuk mereka yang  Engkau pilihkan. Maha Suci Allah. Takbir, Tahlil dan Tahmid akan menyemarakkan malam Idul Adha Mu di setiap pelosok negeriku. 


Tetap update tulisan dari Bang Said di manapun dengan http://m.cybermq.com dari browser ponsel anda!

 Share ke Facebook



0 Response to Natal, Bermusik, dan Nasyid

Leave a Reply

Note: This comment not for HTML format